
Perjuangan kemerdekaan Indonesia sering digambarkan melalui peperangan dan perlawanan fisik. Namun, #TemanSMA harus tahu tidak semua tokoh perjuangan mengandalkan senjata dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tan Malaka adalah salah satu tokoh yang menekankan pentingnya pendidikan dan pemikiran kritis sebagai dasar pembebasan bangsa.
Pada masa penjajahan, akses pendidikan bagi rakyat sangat terbatas dan tidak merata. Kondisi tersebut menyebabkan banyak masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi intelektualnya. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas secara politik, tetapi juga bebas dalam cara berpikir.
Tantangan yang dihadapi Tan Malaka dalam memperjuangkan pendidikan sebagai tombak kemerdekaan sangatlah kompleks. Kolonialisme Belanda secara sistematis membatasi akses pendidikan bagi rakyat pribumi, baik melalui kebijakan maupun minimnya penyediaan dana serta sarana dan prasarana pendidikan. Dalam kondisi tersebut, Tan Malaka dihadapkan pada tugas besar untuk menumbuhkan kesadaran intelektual rakyat serta membangun pemikiran kritis sebagai fondasi perjuangan kemerdekaan bangsa.
Sebagai tokoh perintis gagasan Republik Indonesia, Tan Malaka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui pemikiran radikal, revolusi fisik, dan pergerakan massa. Selama masa penjajahan, ia melakukan berbagai aksi nyata, seperti menerbitkan buku-buku yang kemudian menjadi rujukan konsep republik bagi para proklamator, mengajar di berbagai daerah di Sumatra untuk menumbuhkan kesadaran intelektual rakyat, serta mendirikan partai-partai politik sebagai wadah pendidikan dan pergerakan massa. Dengan konsistensi gagasan “Merdeka 100%”, Tan Malaka menuntut kemerdekaan mutlak dan menolak segala bentuk kerja sama dengan penjajah.
Hasil perjuangan Tan Malaka tidak berakhir sia-sia. Pemikiran dan tindakannya memberikan dampak nyata dalam bidang pendidikan, antara lain:
1. Pendirian Sekolah Rakyat
Mendirikan Sekolah SI di Semarang sebagai tandingan sekolah kolonial Belanda, sehingga membuka akses pendidikan bagi anak-anak pribumi dari kalangan bawah.
2. Kurikulum Berbasis Kemandirian
Menekankan kemampuan baca-tulis, berhitung, ilmu bumi, serta keterampilan praktis untuk membentuk individu yang mandiri dan kritis.
3. Metode Pembelajaran Inovatif
Menerapkan metode dialog, diskusi kritis, jembatan keledai, dan sosiodrama (bermain peran) agar peserta didik aktif dan peka terhadap persoalan sosial.
4. Penggunaan Bahasa Indonesia
Menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan guna menumbuhkan nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.
5. Pendidikan Karakter Proletar
Menanamkan kesadaran sosial, harga diri, dan keberanian melawan penindasan demi mencetak pemimpin yang berpihak pada rakyat kecil.
6. Metode Berpikir “Madilog”
Melalui gagasan Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), Tan Malaka memperkenalkan cara berpikir ilmiah, rasional, dan berbasis data sebagai dasar pembebasan intelektual.
Berdasarkan hasil-hasil tersebut, perjuangan Tan Malaka terbukti berhasil menanamkan fondasi pendidikan yang membebaskan, menggerakkan kader-kader muda untuk sadar akan pentingnya kemerdekaan, serta menjadi langkah awal dalam merombak sistem pendidikan kolonial yang bersifat individualis.
Ditulis oleh Achmad Deedat Assegaf & Valiani Rachman Duta SMA Kalimantan Selatan 2025
sumber : https://sma.kemendikdasmen.go.id/tags/artikel/pendidikan-sebagai-senjata-pandangan-pendidikan-tan-ma...Penulis : Administrator | Terbit : 2026-03-17 | Dibaca : 11